Sabtu, 13 Agustus 2016 0 komentar

Tetangga Masa Gitu

Sebelum jauh, gue cuma mau memperingatkan bahwa catatan ini isinya untuk ngebongkar aib orang. Singkatnya, ini ghibah. Jadi, kalau belum siap mendengar kenistaan tetangga-tetangga gue, hendaklah kalian tutup catatan ini sesegera mungkin.

Terima kasih.

Struktur bangunan rumah gue yang ada di Surabaya (dan cuma ada di Surabaya) itu seperti kereta api, memanjang ke belakang. Di samping kiri rumah, ada beberapa kamar indekos yang jumlahnya ada lima biji.

Yang pertama, di mulai dari kamar paling depan, kamar indekos disewa oleh seorang pria mid-20s, kerjanya di seberang jalan raya. Kira-kira kalau jam masuk kerjanya jam 7 pagi, dia masih bisa sikat gigi tampan dulu jam 06:55, saking deketnya. Orangnya diem, saking diemnya kalau tidur pun gak pernah mau diajak ngobrol.

Combonk qm, mz.

Dia satu-satunya yang gue anggap manusia…. bhaique-bhaique (jika dibandingkan penghuni indekos yang lain). Tidak pernah berulah, membuat masalah, atau membuat kesengsaraan. Yang paling penting, selalu teratur dan gak molor waktu membayar tagihan bulanan.

Yang kedua, kamar yang satu ini isinya kumpulan laki-laki perantauan. Kalau malam minggu, mereka suka ngajak orang lain untuk bercanda ke dalem kamar dengan pintu yang terbuka lebar dan dinding yang dirobohkan. Keras banget ngomongnya, sampai-sampai mengalahkan toa masjid. Menggelegar ke seluruh penjuru dunia. Bedanya kalau toa masjid itu mengundang kebaikan untuk orang melakukan ibadah sholat, kalau para lelaki ini mengundang kebaikan untuk orang berlomba-lomba untuk nabrak mulut mereka pake ban mobil. Terus dibakar dah bannya.

Kalian masih ingat film tentang ibu juragan yang suka merokok dan punya jurus auman singa yang bisa memorak-porandakan rumah di film Kungfu Hustle, gak? Iya, para laki-laki ini adalah Yuen Qiu di film itu namun versi jantan.

Ditambah lagi waktu hari libur seperti Sabtu dan Minggu, mereka pagi-pagi udah bangun nyalain lagu pakai pengeras suara. Volume-nya dibesarin, pintu kamarnya dibuka. Suaranya mengarah ke rumah. Setelah itu, gue minta tolong tetangga lain berbondong-bondong mengarak mereka ke laut untuk dijadikan tumbal pesugihan. Gue gak mempermasalahkan lagunya, tapi volumenya mas tolong ya dikecilkan kuping aku rapuh dan gampang berdarah jika setiap minggu mendengar lagu-lagu kacangan seperti itu.

Pengen banget suatu hari gue bilangin bahwa ini bukan hutan. Di sini pohon udah jarang, jalan sudah diaspal, peradaban semakin maju. Kebahagiaanmu bukan berarti kebahagiaan orang lain, wahai saudaraku. Di mana bumi dipijak, di situ jangan seenaknya sendiri. Mereka adalah 1 dari 10 manusia yang menurut gue sering dapat teguran dari pemilik indekos.

Dih, pantes, kelen pasti diusir kan dari tanah kelahiran! *kabur* 

Yang ketiga, tetangga yang paling parah. Pada suatu hari, hiduplah seorang wanita yang usianya memasuki kepala empat. Kayak naga gitu bentuknya—kepala empat dan suka nyembur. (Soal umur gue pun tak begitu yakin, besok-besok kalau ada waktu gue mau memfoto dia pake kamera yang bisa mendeteksi umur dan zodiak). Kerjanya juga di seberang jalan raya, di sebuah tempat makan. Drama mulu hidupnya, tapi gak ada Korea-nya. Dia sering gonta-ganti pasangan. Dulu, ketika awal masuk perindekosan (ceilah), dia membawa seorang suami yang tingginya sama. Cek-cok mulu, seperti pasangan Married by Accident, yang artinya nikah karena tabrakan.

Setelah beberapa tahun, gue yakin si laki-laki ini gak tahan sama si wanita dan memutuskan untuk pergi. Akhirnya, setelah pergi, si wanita sering bawa lelaki kardus ke dalam kamar kalau malem minggu pada pukul 11 malam. Iya, sampe hapal banget gue jadwalnya. Lelaki kardus yang dimaksud di sini adalah kardus, yang isinya laki-laki kencrot.

Gak ada setahun, dia sudah membawa laki-laki lain, yang gue asumsikan sebagai pasangan serius untuk tinggal di indekos bersamanya. Bodo amat udah nikah apa belum, yang penting jangan nunggak bayarnya. Ini nih, problematika orang indekos. Apa-apa nanti, apa-apa nunggu bulan depan. Pernah sampai nunggak dua bulan, si wanita ini dikunci sama mamak gue dari luar. Kejem ya mamak gue ternyata. Usut punya usut, ternyata dikuncinya pas si wanita ini sedang keluar kamar indekos.

Jadi waktu itu kejadiannya dia lagi mandi (kamar mandi luar), terus mamak gue jalan berjinjit, mengendap masuk ke dalam kamar dan mengunci dari luar. Terus kuncinya dibuang ke sumur. Biar dia loncat dan berenang ke dalem sumur belakang rumah yang banyak buayanya itu. Kalau emang dia gak nemu buaya, ya berarti dia sendiri buayanya. Emang ngeselin sih nih orang. Tapi sehabis mandi itu, dia nangis-nangis supaya boleh masuk kamar dan janji bayar uang sewa secepatnya.

Dia membawa banyak sensasi dan kontroversi ke dalam hidup gue, lah iya orang kita tinggal sebelahan. Ibaratnya, kalau gue jatuh dari kasur waktu tidur, bangun-bangun gue bisa ada di kamarnya dia. Wkwk lhebay

Si wanita berbadan emak-emak ini suka pake minyak wangi. Masih mending satu atau dua jenis, semua jenis minyak wangi yang di jual di jalanan pernah dibeli sama dia. Entah itu minyak wangi atau minyak firdaus yang dibalurkan ke badan. Sampe-sampe, kamar indekosnya bau racun. Baunya kecampur-campur, semacam kaus kaki yang lembab dikasih Kispray. Ya gak enak lah, mbak. Lama-lama aku tepok juga nih jidat sampean pake palu. Jadi, kalau mau lewat depan kamar si wanita ini, harus pake penutup mulut, jangan bernapas, atau kalau bisa berjalan merayap di atas langit-langit sekalian. Masyaallah, baunya sengak ampun-ampunan.

Dia ini wanita satu-satunya di indekos, jadi berasa seperti ratu. Suka teriak-teriak kalau lagi cek-cok sama suaminya. Iya, bahkan sama suami baru masih tetep bertengkar. Aku daftarin tanding tinju di atas air mampus kamu mbak! Susah hidup sama ini orang, kalau gue jadi suaminya, gue akan mengikat dia pakai tampar timba sumur ala-ala Fifty Shades of Grey lalu gue bakar deh kasurnya waktu tidur.

Lucunya, dia kalo marah sambil nyanyi.

Baru-baru ini, sepasang suami-istri ini lagi kongkow di sumur belakang rumah. Suara si wanita udah kaya terompet sangkakala, udah cempreng, keras, kedenger sama gue lagi.

“LAH INI ADA BIBIR DI KAOSMU, HA! APA? MASIH NGEYEL?” teriak si wanita.

Si laki diem aja. Wanita zaman sekarang kan emang gitu, semakin dibales, semakin beringaslah dia.

Sejenak kemudian, dia nyanyi lagu yang gue gak tahu apa judulnya. Dangdut abis.

“Lalu untuk apa kau memanggilku woooo... tiba-tiba, kau minta maaf padaku…”

“GAUSAH PEGANG-PEGANG!” sembari terdengar suara gamparan tangan pada lengan laki-laki.

Nyayi lagi. “Aku ingin kau pergi dari dalam hidupku…”

Si laki ini, gue asumsikan, sedang duduk di tepi sumur dan siap lahir batin untuk dijedotin palanya sampe mampus. Rada ngeselin hati ya, mereka yang punya masalah, orang lain yang ikut keganggu. Satu lagi kebiasaan yang menurut gue buruk, dia kalau mandi selalu pakai kemben batik seperti perawan desa yang suka mandi di balik batu sungai. Ya kali mbak, udah tahu kamar mandinya di luar angkasa, masih aja pamer aurat sambil lari-larian dengan rambut yang masih basah. Dipelorot kucing nangis kamu.

Yang gue suka dari wanita ini, adalah dia suka bawa makanan dari tempat makan untuk dibagi-bagikan ke rumah meski jarang. Udah, segitu aja pujiannya. Kalau mau pujian yang panjang, silahkan datang ke masjid dan mushola terdekat. Banyak. Lima kali sehari.

Hikmah dari tulisan ini adalah… gak ada. Orang ini ghibah, mana ada hikmah dibalik ghibah. Lah, sewot.

Terima kasih.
Minggu, 08 Maret 2015 2 komentar

Bertemu Raditya Dika

Di usia 18 tahun, gue kembali teringat tentang seminar yang waktu itu menampilkan gambar seseorang yang menuliskan mimpinya dalam secarik kertas. Dia diketawain oleh teman-temannya karena mimpinya yang bisa dibilang akan membuat orang berkata, "Mimpi lo?!"

Kumpulan mimpi dalam sebuah kertas. Kumpulan harapan dalam ujung angan. Di tahun-tahun yang sudah berlalu, seperti yang kalian sudah duga, dia mampu meraih semua mimpinya. Dengan kertas yang semakin panjang dengan coretan mimpinya. 

Gue sendiri juga ikut-ikutan menuliskan mimpi-mimpi dalam kertas. Bahasa kerennya bucketlist. Disitu umur gue masih 18 tahun (alhamdulillah sekarang udah mau mati), gue nulis mimpi yang konyol juga sih sebenarnya. Mimpi yang kadang akan bertahan jadi mimpi. 

Salah satu dari bucketlist itu adalah bertemu dengan Raditya Dika. Cowok bantet berkumis tipis yang followersnya 9 juta. Dimana, 8.9 juta followersnya adalah keluarganya sendiri, aku Raditya Dika saat itu. 

Bulan Desember 2014 lalu, gue ikut pre-order buku terbarunya Radith, yaitu Koala Kumal. Disitu, pre-order dibuka pukul 00.00. Udah macam artis aja ya. (Emang iya rip. Emang gitu). Gue bela-belain begadang untuk pre-order bukunya. Demi seorang laki-laki yang gak akan pernah folback gue di twitter. Mention aja gak pernah dibales. *siul-siul sambil nangis*

Di malam natal, 25 Desember, paket buku Koala Kumal dan kaus Koala Kumal dateng. Detik itu pula, gue berasa kayak udah berhasil menjadi anak yang baik dalam setahun kebelakang, dan layak mendapatkan hadiah dari Santa Clause. Iya, gue habis ngehirup ganja. Maafin.

2 Februari 2015. Diadakan Meet and Greet dan Book-signing buku barunya Raditya Dika di Surabaya. Gue dateng sama temen-temen gue, tapi gue doang yang antri untuk minta tanda tangan. Waktu itu ada dua cewek yang antri di depan gue. Gue ajak ngobrol sekali, mereka tiba-tiba pingsan kayak habis dihipnotis. Disitu saya kadang merasa sedih. Mungkin gue lupa sikat gigi 3 hari sebelumnya.

Meet and Greet kali itu diadakan di Gramedia Tunjungan Plaza. Gue antri hampir 2 jam. Gue antri demi laki-laki yang bahkan gak pernah gue ajak kenalan. Antriannya panjang banget. Sampai Jakarta. Hehe. Gak deh, yang pasti antriannya panjang bet sampai keluar-keluar dari Gramedia itu sendiri. 

Gue alhamdulillah dapet antrian depan, mangkanya nunggu 2 jam. Itu 2 jam kalo gue tinggal pipis non-stop, bisa-bisa istana negara kebanjiran tuh. Kebiasaan Radith sebelum muncul, dia suka ngebales mention para fansnya di twitter yang gak sabar buat ketemu. "Lagi dimana bang? Udah rame nih..."

Lalu, dijawab.

"Bentar ya anting gue ilang nih..."

"Bentar ya celana gue tiba-tiba copot sendiri nih..."

"Bentar ya sepatu roda gue ilang nih..."

Gimana? Udah percaya sekarang, kalau 8.9 followers-nya itu sebatas keluarganya sendiri?

Setelah lama, laki-laki yang ditunggu sejuta umat tadi keluar dari belakang. Semua orang teriak-teriak. Beda tipis sama kesurupan setan yang tititnya kejepit gerbang sekolah. Ugh. 
Pegawai Gramedia yang cewek pun naik-naik meja. Atap-atap mulai roboh saking hebohnya kedatengan artis. Gue mau ikutan teriak-teriak, takut digaplok satpam. Yaudah, gue nunggu antrian yang makin lama makin tipis.

Giliran gue maju. Gue ngasih ponsel gue ke petugas yang bertugas memfoto pembaca dan si Radith. Waktu berada di samping Radith, gue grogi asli. Gue mau ajak ngobrol, takut dikata sok kenal. Gue mau ajak makan, takut dia-nya udah makan duluan. Gue mau ajak nonton, takutnya gue dilindes pake mobilnya. Yaudah, akhirnya gue cuma ngasih buku Koala Kumal gue biar dikasih tanda tangannya. Ternyata apa yang ada di TV gak beda jauh sama aslinya. Nih ya, yang gak percaya Radith itu laki-laki, gue udah cek pake mata kepala dan mata kaki gue sendiri. 

Dia positif laki-laki. 

Habis itu, kita pose untuk foto bareng. Kejadiannya cepet banget. Si petugas tadi tiba-tiba bilang, "Oke, sudah," sambil ngasih ponselnya balik ke gue. Gue pun ambil kesempatan buat megang tangannya Radith. Pas udah selesai ditanda-tanganin, gue salaman sama dia. Iya, dia positif MANUSIA BENERAN! WAH. Gila ya gue. Bener-bener gila dalam arti yang sebenarnya. 

Sambil merasakan kehangatan tangannya... (kok jijik ya) hapus hapus!

Sambil salaman, gue bilang, "Makasih bang udah nyempetin jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya buat ketemu sama aku doang."

Gak deh. Gue bilang, "Makasih, bang," sambil gemeteran satu badan. Dia pun cuma ngangguk doang sambil senyum. Iya, gue 2 jam nunggu dia sampe gempor, dibales senyum doang, gais. Disitu saya kadang ... udah ah.

Setelah itu, gue keluar dan ketemu sama teman-teman baik gue. Yang rela nungguin gue buat ketemu laki-laki yang bahkan sekarang sudah lupa sama muka gue sendiri. Mereka juga seneng sih, gue ajakin ngelihat artis secara langsung. Ada nih satu temen gue yang histeris waktu Radith muncul. Teriak-teriak sampe pengin gue paku mulutnya. Berisik banget saking senengnya.

Dalam sejarah kehidupan gue sendiri, gue gak pernah sesenang itu hanya untuk ketemu dengan seorang laki-laki. Maklum lah, kita pada jarang ketemu artis. Sekali ketemu ya gitu, gak tahu malu. Malah kemaluannya yang kemana-mana. 

Mimpi, gais. Semuanya bermula dari mimpi. Dari mimpi, kita punya harapan. Kita punya sesuatu yang dikejar. Kita punya sesuatu yang layak diwujudkan. Dan, kita punya sesuatu yang layak dinikmati. Ya gimana sih rasanya sebuah mimpi itu terwujud? 

Ya gitu.
Yaudah gitu.
Pokoknya gitu.

Gue telah berhasil membuat temen-temen gue pada iri hati. Hehe


Ini nih, fotonya. 

Kalo kamu bingung ngebedain, yang Radith sebelah kanan, yang kiri itu bukan siapa-siapa. Aku nya yang pake baju merah yang pake batu akik. 

Sebenarnya, hak orang juga kok untuk ketawa pada mimpi kita. Mulut, mulut dia. Bibir, bibir dia. Pantat pun, pantat dia. Yang pasti kita bermimpi untuk diwujudkan, kalopun nantinya ditertawakan, asal mimpinya kewujud, terus siapa yang ketawa pada akhirnya?

Kita sendiri.

Terima kasih ya, sudah mampir kemari. Besok-besok main ke rumah ya, siapa tahu mama merestui... kamu jadi pembantu.
Jumat, 30 Januari 2015 1 komentar

Main Hape Waktu Ujian

Waktu SMP dulu, gue pernah ketangkep basah main ponsel waktu ujian berlangsung. Waktu itu, badan gue masih kurus (Alhamdulillah sekarang juga masih kurang gizi), rambut gue belah pinggir, dan jarang senyum ke orang-orang. Ibarat kata, gue waktu itu kayak anak laki-laki yang sengaja dihilangkan dari daftar nama kartu keluarga.

Di tahun pertama, gue masih gelapagapan kalau disuruh ngomong sama orang lain. Gue gak akan ngobrol kalau gak ada butuhnya. Mau minjem alat tulis ke temen aja susah.

'Emm.. aku boleh minjem pentilnya, gak?'

'PENTIL?'

'Iya, pentilku patah soalnya.'

Satu menit kemudian gue baru sadar gue salah ngomong pensil jadi pentil.

'Gak ada. Pentil aku juga kemarin dipinjem orang tapi gak dibalikin.'

Ternyata, temen cowok gue tadi juga sama begonya. Kemudian, di tahun ketiga di SMP, gue mulai berubah menjadi murid yang agak nakal. Gue suka memainkan perasaan guru dan jadi bandar judi. (Becanda)

Gue udah berani niru-niru kelakuan yang kurang baik; ngeluarin baju seragam, kaus kaki dilipet sampai kedalam sepatu, dan pipis tanpa disiram. Gue juga udah punya hape sendiri. Itu pun pake uang gue sendiri, didapat dari hasil kerja keras gue sunat waktu lulus SD. Hebat ya, sekali sunat, dapet hape. Mungkin besok kalau gue sunat lagi, gue bisa beli mobil. (Iya, mobil ambulance)

Sampai suatu hari, ujian tengah semester pun tiba. Suasana ujian kebetulan lagi sepi, (Lah kan emang sepi), mata pelajarannya lagi gampang banget hari itu, ujian pendidikan jasmani dan rohaye. Semenit dibagiin, paling udah selesai. Ada remedial sekali pun, paling mentok juga disuruh beli bola kaki yang harganya 2 ribuan. Mangkanya, waktu itu gue agak meremehkan ujian beserta pengawas ujiannya.

Nah, disinilah semua tragedi itu terjadi.

Gue mainan hape di bawah kolong meja waktu ujian. Gue lagi chattingan sama cewek yang berada dua bangku di depan gue. Ceritanya, si cewek tadi minta gue jadi pacar bayarannya beberapa hari sebelumnya. Lucunya, gue gak dibayar sama sekali. Lucunya lagi, gue mau mau aja digituin.

Klise. Si pacar gadungan gue tadi pengin manas-manasin mantannya doang berlomba siapa yang punya kehidupan yang lebih baik setelah putus. Kayak sepeda motor ibaratnya, dipanasin mulu. Yaudah, kita chatting-an lewat mxit (aplikasi semacam Line, yang sekarang sudah punah) dengan kata sayang-sayangan.

'Gy ngaps nih, yank?' gue nanya sambil minta digampar. Jelas-jelas lagi ujian.

'Buta, ya, mas? Ini kan lagi mxit-an.'

'Ih siapa tahu kamu lagi kangen aku. Ha99x.'

Jijik ya lama-lama.

Karena gue terbuai oleh canggihnya teknologi saat itu, gue sampai lupa kalau ujian masih berlangsung. Suasananya masih tetap hening sampai tiba-tiba ada pengawas ujian yang berjalan cepat ke arah gue dan...

'Sini. Kasih hapenya!'

Gue rencananya mau ngelawan dan ngelempar hape gue ke luar jendela dan berkata, 'Tuh. Sana ambil, kalau berani.'

Nyatanya gue yang gak berani. Kalau kalian udah kelas 3, dan mau Ujian Nasional, nyawa kalian sekarang berada di tangan para guru. Hape gue diambil paksa, seperti preman yang ngambil permen dari mulut bayi. Gue pun langsung merenung dalam kesendirian dan mulai bertanya-tanya seperti dalam suatu adegan sinetron, 'Gue semalem mimpi apa ya kok bisa jadi begini?'

Saat jam ujian berakhir. Gue ke meja pengawas dan mulai dihakimi. Kalau waktu itu beneran sinetron, mungkin dia adalah majikan yang kaya raya, sedangkan gue hanyalah asisten rumah tangga yang dimarahin gara-gara mecahin piring plastik kesayangannya.

'Ini hapenya besok diambil orang tua kamu di meja guru. Biar mereka tahu kelakuan anaknya si sekolah seperti apa. Kecil-kecil kok sudah pacaran?!'

Dalam hitungan detik, bukan hanya bibir gue yang pecah-pecah, tapi hati gue juga.

'Jangan Bu. Saya janji gak bakal main hape lagi waktu ujian. Itu bukan pacar saya kok, Bu. Saya aja gak tahu cara nembak cewek gimana, Bu. (Bohong abis). Saya mohon jangan panggil orang tua saya, Bu.'

Gue berkata sambil mau nangis. Gue juga pernah baca artikel bahwa jika bola mata seseorang kearah kiri saat diajak berbicara, maka dia berbohong. Sebaliknya, jika bola matanya kearah kanan, maka dia berkata jujur. Yaudah, gue berusaha fokus ke arah kanan. Tapi malah jadinya gue ngelirik ke atas bawah kanan kiri depan belakang.

'Ini bocah matanya juling kali ya,' batin pengawasnya.

Kalau waktu itu memungkinkan buat gue sujud di hadapannya, mungkin bakal gue lakukan. Untungnya beliau gak minta hal yang sedemikian rupa. Berhala kali, perlu disembah. Setelah melewati negosiasi yang panjang, si pengawas ujian yang cantik ini (kata suaminya) akhirnya luluh dan mengembalikan hapenya ke tangan gue yang penuh dengan keringat. Uang hasil sunat itu pun sudah berada di tangan yang aman. Gue lega selega-leganya orang lega.

Kemudian, gue keluar kelas dengan hati yang lapang. Disana, gue udah ditunggu sama temen-temen gue, seakan-akan gue barusan masuk zona tidak aman dan akhirnya masuk ke babak final. Mereka semua baik banget, rela nungguin gue disidang di dalam kelas.

'Lo gakpapa?'

'Tadi ditanya apa aja?'

'Lo sempet mau ngegampar mukanya gak?'

Gue cuma senyum-senyum aja sambil satu badan panas adem semua. Setelah tragedi itu, gue trauma jadi pacar bayaran. (Secara gak dibayar, bro) (Palingan juga gak ada yang nawarin). Gue juga trauma mainan hape waktu ujian. Yang pasti, mulai hari itu gue udah stop bawa hape di saku celana pas ujian. Gak peduli Ujian Semester kek, Ujian Nasional kek, Ujian deres kek, gue trauma.

Emang bener ya, kadang guru itu memberi pengalaman yang terbaik. Dan seperti tulisan bijak yang ada di buku tulis, pengalaman adalah guru yang terbaik.
Kamis, 20 Maret 2014 4 komentar

Kiriman dari Irlandia

Senin, 10 Maret 2014.

Hari Senin, emang lebih banyak ngeselin daripada membahagiakan. Mulai dari males bangun pagi, males mandi, berangkat kuliah pun males. Belum lagi ada macet. Belum lagi kalo baru inget ada tugas. Belum lagi kalau udah nyampe kampus, ternyata buku ketinggalan di rumah.

Hari itu, pas siang hari, gue lagi rebahan di kamar, sambil tengkurep di kasur, dalam keadaan laper dan ngantuk. Mau makan, tapi ngantuk. Mau tidur, tapi laper. Dilema banget.
Pas lagi dalam kondisi dilema, kakak gue masuk kamar sambil bawa paket yang agak mencurigakan. 

"Nih." katanya sambil ngelempar paketnya ke samping muka gue.

Gue langsung bangun dan ngebuka paketnya. Paket itu dateng dari Pos Indonesia. Agak aneh juga, karena paket yang biasanya gue dapet dari JNE.

Pas gue buka. Gue kaget. Kayak cewek yang habis pipis di testpack, dan dapet kabar kabar positif hamil. Padahal belum nikah.

Paket ini dateng dari Irlandia. Gila! Mana gue gak ngerti lagi Irlandia itu dimana. Yang pasti ini paket dari luar negeri.
Saking senengnya, gue langsung cepet-cepet buka paket itu. Tapi tetep pelan-pelan bukanya biar kagak rusak. 

Isinya adalah novel. Tebel banget. Kira-kira tebelnya kayak pembalut tipis yang ditumpuk satu lusin. Gue masih gak percaya. Apakah ini hanya sebatas mimpi di siang hari? Seseorang, cubit aku dong! Pake linggis. 

Gue masih heran, kenapa gue bisa dapet buku ini. Karena, gue gak merasa beli novel ini. Beli buku nikah aja gak mampu, apalagi buku dari luar negeri.

Novel ini berjudul "Look into the Eye", karangan Jennifer Barrett. Terbitan dari Poolbeg Press, tahun 2013.




















Di dalem buku ini juga ada tanda tangan si Jennifer, dan juga ada kartu ucapan dari dia.


"Dear Arief,
Many thanks for entering the giveaway for my book on Goodreads. I hope you will enjoy reading it there in Indonesia 

Greetings from Ireland!
Jennifer Barrett"

(Untuk Arief,
Terima kasih banyak buat ikutan giveaway di Goodreads. Saya harap kamu akan menikmati membacanya di Indonesia. 

Salam dari Irlandia!
Jennifer Barrett"

SENENG BANGET! Sampe-sampe gue lupa kalo tadi sempet laper dan ngantuk.

Sekarang, gue baru inget kalau gue pernah ikutan giveaway di Goodreads (situs media sosial yang berhubungan dengan buku di seluruh dunia.)

Sebenernya, paket ini dateng ke rumah nenek (yang berdekatan dengan rumah gue). Jadi, yang nerima paket ini duluan itu nenek. Dan dia juga yang bayar bea cukai, bea siswa, bea gak tau lah apa seharga 7ribu. (Iya iya, habis ini gue ganti.)

Nenek gue juga histeris karena dia juga denger gue dapet paket dari luar negeri. 

Nenek: "Dapet paket apa?"
Gue: "Paket buku."
Nenek: "Ohhh. Tak pikir dapet duit. Kok katanya dari luar negeri segala."

Gue TKI kali, dapet uang dari luar negeri segala. Tapi, yang pasti. Gue seneng banget karena ini adalah pertama kalinya. (Semoga dapet lagi. *maruk*)

Merasa beruntung banget karena seluruh orang di bumi yang ikutan giveaway ini, tapi yang dapet adalah gue yang gak tau diuntung ini, dan beberapa orang lagi di luar sana.

Di sisi lain, agak sedih juga karena ini novel berbahasa Inggris. Gue takut nanti bakal dikit-dikit buka kamus buat nyari artinya.

Sedikit tentang buku ini, di back covernya, ada tulisan "What happens when the right people meet, at the wrong time?" (Apa yang terjadi saat orang yang tepat saling bertemu, pada waktu yang salah)

Beeh. Keren kan? Penulis buku ini juga bakal menyumbangkan hasil royalti dari buku ini kepada organisasi perlindungan dan observasi paus dan lumba-lumba di seluruh dunia, dan kepada "Youth mental health charities" di Irlandia.

Kenapa kepada organisasi itu? Karena dalem buku ini, juga ada tentang paus dan lumba-lumba. Penulisnya ternyata penggemar paus dan lumba-lumba. Mangkanya, dia gak setuju kalau ada eksploitasi terhadap mereka dan juga menentang kalau lumba-lumba disuruh beratraksi di sirkus demi dapet makanan.

Keren!

Habis itu, gue mention si Jennifer lewat twitter.

@ariefmaulan: "@JenBarrettEye Hi Jennifer! Your book just arrived today. Feeling too excited to get the giveaway from Ireland. Thank you for every words:)"

Beberapa hari setelahnya, tweet gue dibales.

@JenBarrettEye: "@ariefmaulan hi Arief! Ah that's great it arrived. I do hope you enjoy it now :)"

Big thanks to Jennifer Barrett for this book and the feeling. :)






Minggu, 02 Februari 2014 1 komentar

Valentine untuk Jomblo

Selamat datang, bulan Februari.
Apa harapan kalian di bulan ini? Berharap pas hari Valentine, bumi terbelah jadi dua? Ah, jomblo sih.

Bulan ini adalah bulan yang banyak ditunggu oleh mereka yang punya pasangan, tapi bulan ini juga bulan yang gak pernah diharapkan untuk tercetak di kalender para jomblo di dunia. Hari Valentine dianggap sebagai hari kiamat untuk jomblo. Kejam banget. Tapi, jangan sedih dulu kali, mblo.

Oke. Mungkin dari awal, hari Valentine atau Valentine's Day adalah hari yang hanya diperuntukkan untuk mereka yang punya pasangan atau mereka yang pura-pura punya pasangan (baca: nyewa orang buat jadi pacarnya di hari Valentine doang).

Tapi, sebenarnya arti dari hari Valentine berarti hari Percintaan, dimana cinta itu gak selalu buat seseorang yang kalian cintai atau yang mencintai kalian. Cinta bisa datang dari mana aja kok. Sama kucing tetangga misalnya, kalian bisa ngasih dia bunga ikan asin dan coklat isi Whiskas. Ya, siapa tahu kucing itu adalah jodoh yang kalian cari selama ini? 

Allahualam, mblo.

Jadi, hari Valentine juga diperuntukkan untuk mereka yang tidak merasakan cinta, agar mereka mendapatkan cinta di hari itu. Bisa disimpulkan, hari Valentine itu untuk semua orang. Gak peduli kalian jomblo, jomblo ngenes, jomblo tanpa harga diri, atau jomblo dalam bentuk apapun. The thing is... Kita semua dapat merasakan cinta.

Nah, kalian yang udah punya pasangan pasti udah tahu apa yang harus kalian lakukan di hari Valentine kan?
Buat kalian, para jomblo yang bingung mau ngapain pas hari Valentine. Kalian bisa nyoba hal-hal dibawah ini. Ini udah diuji di IPB dan ITB, jadi aman buat dikonsumsi.

1. Jualan coklat kepada cowok yang mau ngasih coklat ke pasangannya.

Valentine pasti gak pernah jauh dari yang namanya coklat dan bunga mawar. Tapi, rasanya bakal biasa aja kalo dari tahun ke tahun dikasihnya itu-itu aja. Maka, sebagai jomblo yang kreatif, kalian bisa bikin coklat yang berbentuk bunga mawar. Terus dijual dan dapet untungnya. 

Inget mblo, jangan sekali-sekali ngasih racun tikus di dalemnya. Jangan mblo, jangan merusak citra kalian sebagai jomblo. 

Tapi itu beneran ada lo, kalian bisa pesen disini (gak ada maksud promosi sebenarnya, tapi siapa tahu ada yang minat beli. Belinya di Canada tapi. Harganya murah kok, sekitar 200 ribu.) Pesennya disini.

2. "Do what makes you happy."


Lakukan apa yang membuat kalian senang. Nah, hobi adalah satunya yang dapat menggambarkan kalimat barusan. Kalo hobi kalian makan sabun, ya makan sabun. Kalo hobi kalian adalah mandi, ya mandi. Tapi, perlu kalian tahu, ada mandi yang bikin kalian mati. Beneran. Mungkin kalian sering denger kalo mandi malem bisa bikin rematik kan? Tapi ini beda, mandi bisa bikin mati. Iya, mandiin istri orang.

Kalo gue sih, selain suka nulis, hobi gue yang lain adalah nyanyi di kamar mandi. Kadang kalo capek nyayi, gue suka muter lagu lewat hape terus lipsync di kamar mandi sambil megang botol shampoo sebagai microphone-nya.

Kalo kalian ada yang hobi ngintip orang mandi, ya silahkan. Gak ada yang ngelarang kok. Tapi, gak ada yang nyuruh juga. Jadi, kalo ketahuan terus kalian digebukin satu kampung, ya salah sendiri.

3. Pergi keluar bareng temen.

Jalan dan jajan. Semua orang pasti suka sama kedua hal tersebut. Apalagi menghabiskan waktu bareng temen. Selain mereka gak perlu ditraktir makan kayak pacar, mereka juga gak bakal pernah mutusin kalian sebagai temennya. Iya, nggak?

Biasanya gue suka diajakin ke rumah temen yang rumahnya lagi sepi terus nonton film horror bareng. Walaupun pada kenyataannya, gue takut sama film horror, tapi seenggaknya, kita takutnya barengan. Kagetnya juga barengan. Gue akui bahwa gue emang takut sama film horror, tapi gue lebih takut kehilangan temen-temen gue. *mendadak sok bijak* 



















4. Cari pacar.
Ini adalah salah satu hal yang wajib buat dilakuin buat kalian yang mau melepas jabatan sebagai jomblo. Kalau kalian mau pacaran, tapi gak mau nyari pacar. (Biasanya cewek, biasanya mblo.) Itu sama aja kayak mau duit tapi gak mau kerja. Orang mau dapet uang pasti ada usaha dulu, entah dia mau babi ngepet dulu, pergi ke dukun, atau nyari kerjaan di koran-koran.

Gue pribadi sih, bakal seneng kalo dapet pacar pas hari Valentine. Karena kalo mau merayakan hari jadian, bisa barengan sama hari Valentine. Selain biar hemat, sekaligus biar gak dimarahin pacar kalo lupa tanggal 
jadian.

5. Jangan galau.


Galau adalah rasa ngilu yang terjadi akibat infeksi pada hati. Dan, galau emang udah menjadi rutinitas wajib bagi kaum jomblo. Tapi, di dunia ini banyak kok yang bisa memberikan kebahagiaan buat kalian. Mangkanya mblo, kalau lagi galau, satu menit per hari aja udah cukup kok. Gak perlu lama-lama. Ngegalau lama-lama juga gak ada gunanya, kan?

Well, seorang jomblo sejati adalah jomblo yang bisa mendapat kesenangan caranya tersendiri. Tapi bukan berarti kesenangannya dapat merugikan orang lain.

Gitu, mblo. 

Yah, mungkin itu yang bisa gue sarankan untuk kalian semua. Khususnya kamu, mblo. 
Happy Valentine's day, everyone :) *spread love*
Jumat, 03 Januari 2014 8 komentar

Sunat: Pembantaian Ujung Titit


Gue dari SD udah mendapatkan diskriminasi, keren ya?

Waktu kelas 6 SD, semua cowok di kelas kebanyakan udah pada sunat, dan mereka kayak punya kuasa lebih di dalam kelas karena udah sunat. Mereka bilang, "Yang tititnya belum disunat, gak boleh masuk kelas!"

Anjrit. Masak iya gue harus sunat waktu itu juga biar bisa masuk kelas?

Tapi masak iya gue harus belajar di luar kelas sambil nunggu guru nyamperin, terus ditanyain, "Loh, arief kenapa di luar?"

"Saya belum sunat buk, jadi gak boleh masuk kelas."

"Kok gitu sih? Ibu juga belum sunat kok. Yaudah, nanti habis makan siang, sunat bareng gimana?"

Tapi untungnya, waktu itu gue adalah murid baru di sekolah itu. Jadi, waktu istirahat, gue dibolehin masuk ke dalem kelas. Tapi gue cuma diem di dalem kelas, barengan sama anak cowok yang udah disunat. Sebenarnya gue baik-baik aja waktu itu, sampai gue tahu kalau mereka pada nutup pintu kelas terus mereka kumpul bareng dan saling pamerin tititnya yang udah disunat.

"Nih punya gue, bagus kan jahitannya?"

"Bagusan punya gue kali, ini dipakein laser. Lebih rapi hasilnya."

"Yaudah, tukeran aja gimana?"

Gue mencoba mencuri pandang ke arah mereka yang lagi megang titinya sendiri-sendiri. Ternyata titinya pada kecil semua. (Yaiyalah, namanya juga titit anak SD kan ya). Terus gue lihatin, tiba-tiba pas tititnya dipegang, crut, ada pipisnya. Anjrit banget.

Kayaknya abis ini gue mau pindah sekolah lagi. Di tambah lagi, pipisnya ada yang muncrat ke arah tembok. Terus anak yang pipis tadi dijauhin semua temennya. Mereka semua pada lari ke luar kelas.

Kampretnya dia noleh ke arah gue yang lagi duduk sendirian. Gue langsung nutup buku yang gue baca dan langsung kabur keluar kelas. Geli ngelihatnya.

Ngomongin soal sunat, sebagai laki-laki, gue tentunya juga harus sunat. Walaupun, jauh di lubuk hati kecil gue menolak untuk disunat. Secara gitu kan, kemaluan gue sendiri dipegang oleh orang lain terus digunting di bagian ujungnya. Iya dong. Mana ada laki-laki yang mau digituin? Kita juga punya harga diri kali. 

Tapi, pada akhirnya, waktu liburan panjang setelah lulus SD, gue akhirnya memutuskan untuk sunat dan berjanji untuk tidak pamerin titit gue ke orang lain. Waktu itu, gue sunatnya ke dokter. Gak tahu kenapa gak dibawa ke dukun aja biar cepet... cepet matinya.

Waktu itu gue pakai baju muslim, terus pakai sarung dan disuruh gak usah pake celana dalem. Jujur ya, gue merasa risih gak pake daleman waktu itu. Kalo aja sarung terbuat dari karung beras, mungkin titit gue udah berdarah duluan sebelum disunat.

Terus dokternya kaget, "Loh, ini kok burungnya bisa menstruasi?"

Udah ah. Waktu itu, gue ke dokter sunatnya pake mobil. Selama perjalanan, titit gue berasa adem terus-terusan. Gue takut titit gue masuk angin. Gak lama kemudian, akhirnya gue sampai di tempat pembantaian ujung titit gue.

Gue turun dari mobil dengan pelan, gue berjalan pun harus pelan, kayak ratu gitu, soalnya orang sunat gak dibolehin buat lari-larian sebelum dan sesudah sunat berlangsung. Katanya bisa bikin burungnya membengkak alias menjadi besar. Padahal punya burung besar kan bagus. *eh*

Gue masuk, gue ketemu dokternya. Gue disuruh tiduran. Gue nyuruh dokternya tiduran juga. Terus kita tidur bareng. Terus gue hamil. Dokternya juga ikutan hamil. *apasih*

Gue disuruh tidur sambil mekangkang. Dokternya ngebuka sarung yang gue pakai dan mulai megang-megang tiang kehidupan gue. Gak sopan banget sumpah. Setelah itu, gue dilarang ngintip apa yang dokter lakukan, biar guenya gak takut. Habis itu, dokternya ngambil gergaji. Terus titit gue di potong bagian ujungnya. Terus gak tahu diapain lagi, kan gue dilarang ngintip. Gue tahunya udah jadi gitu aja.

Setelah selesai di engek-engek, gue disuruh megang ujung sarung biar gak kena burung gue yang lagi basah. Terus gue jalan sambil dituntun menuju mobil kayak orang panti jompo yang gak mampu jalan.

Di rumah, gue punya sepupu cewek, udah SMA kayaknya, terus dia maksa mau lihat hasil titit gue yang udah disunat. Gue nolak berkali-kali tapi dia tetep maksa buat lihat.

"Mana coba lihat burungmu."

"Gak ah. Males."

"Lihat kok!"

"Gak!"

"Ayo kok!"

"Gak mau ah. Bentuknya sama kayak yang lain. Serius."

Dan untuk merayakan titit gue dengan tampilan baru, nenek gue sampe-sampe ngebelain motong ayam peliharaannya terus dipanggang buat gue. Jadi, semua dagingnya punya gue. Walaupun nyatanya banyak dimakan sama orang lain sih. 

Nenek gue juga cerita kalo sekarang sunat itu udah gak sesakit zaman dulu (padahal sakitnya juga tetep kerasa), katanya di zaman dulu, orang laki-laki itu sunat sendiri, pake pisau yang udah karatan. Katanya suka alot pas dipotong. Ngeri deh pokoknya kalo dibayangin.

Yah, secara keseluruhan, sunat emang sakit sih, sakit banget. Saking sakitnya gue gak mau disunat lagi. Tapi dengan sunat, gue sekarang udah boleh masuk kelas lagi.
Sabtu, 09 November 2013 1 komentar

Nyari Kerja (Sesuai Minat) Itu Sulit
























Judul yang kalian baca barusan gue dapet dari seseorang, entah di dunia nyata atau dunia maya. Lupa gue dapet dari mana.

Yang pasti kalimat itu menjelaskan bahwa kalimat "Nyari kerja itu sulit" adalah salah sebenarnya. Karena banyak kerjaan yang 'bertebaran' di jalanan. Tapi kerjaan yang sesuai dengan minat seseorang itu yang sulit dicari. 

Beberapa hari yang lalu, ada sahabat gue nawarin kerjaan. Dia cewek. Anak ilmu komunikasi. Sebut aja namanya "Niluh". Dia nawarin kerjaan, katanya kerjaan itu cocok banget buat gue. Terus kan gue dijelasin, kerjaan itu adalah 'Script Writer' di stasiun tv di surabaya. 

Gue kayak "HAH? Beneran?"

Dan emang bener. Gue juga ngerasa pekerjaan ini cocok buat gue walau pun gue gak tahu Script Writer itu ngapain aja kerjanya. Yang penting adalah kerjanya nulis, which is writing adalah hobi gue. Gak peduli nulis apaan. Nulis cerpen di tembok kek, nulis puisi di pantat gajah kek, nulis cerita dewasa kek, apa aja gue mau ngelakuin, kecuali nulis nama gue sendiri di batu nisan.

Biarin itu yang nulis orang lain.

Jadi, Script Writer itu ada banyak macamnya. Dan tergatung diposisikan dalam acara tv yang seperti apa. Kebetulan, katanya si Niluh, mungkin gue akan ditempatkan di acara semacam berita international dan lokal. Dia juga bilang ke gue, kalo "Sering-sering aja nonton berita di tv."

Gue sempet down, karena tontonan gue biasanya adalah doraemon melawan kadal sumbing di negeri awan. Gue jarang nonton berita. Palingan juga nonton infotainment. Dan berita infotainment yang terakhir gue tahu adalah Syahrini berbicara intelek karena ingin mengikuti jejak si Vicky Prasetyo dalam penjara.

Eh gitu kan beritanya?

Well, yaudah sih gue gak harus update berita di tv. Karena di internet pun banyak berita juga. Jadi, gue gak khawatir lagi kan. Dan, setelah itu gue disuruh untuk bikin dua naskah berita yang bertajuk international dan lokal.

Gue browsing berita waktu itu dan akhirnya nemu. Dan gue bikin naskah hari itu juga dengan kobaran api yang ada dalam jiwa raga gue. Akhirnya jadi satu yang berita international. Judulnya " 'Pembunuh' Michael Jackson Terbebas dari Penjara"

Wuss! Keren kan ya?

Terus gue browsing lagi berita lokal, gue dapet materi tentang berita si Avril lavigne yang bakal konser di Indonesia bulan Maret 2014 nanti. Karena waktu itu udah malem, gue milih tidur dulu karena besok masih ada Ujian Tengah Semester (UTS).

Esok harinya. Setelah UTS selesai. Gue langsung pulang dan mau bikin naskah berita yang kedua. 

Tapi, si Niluh ngasih kabar ke gue lewat twitter. 

Dia bilang kayak gini, "Tadi aku ceritain tentang kamu dikit ke bosnya dan dia tertarik sama kamu padahal aku belum ngasih script bikinanmu, terus orangnya bilang minta fotonya buat dilihat,  dia bilang 'yang good looking ya mbak', Aku jawab 'oh tenang aja pak, ini good looking banget'. Terus tak tunjukin fotomu, lah kok bapaknya ngomong 'kok cowok si mbak? Aku cari cewe.'"

Gue gak tahu harus ngomong apa waktu itu. Gue langsung terpuruk ke dalam perut bumi dan terbakar menjadi abu yang melayang di antara udara. Meeen, padahal gue udah punya rencana mau traktir si Niluh dan sahabat gue satunya pas gaji pertama.

Gue kayak cewek lemah yang di-php cowok yang dia sukai. 

Rasanya kayak.... Wanjrit. Masak iya demi pekerjaan gue harus jadi cewek dulu? Iya, kalo hidup gue sebatas sinetron. Gue bakal belain beli wig, terus beli bola baseball buat disumpelin di BH. Gue bakal cantik dan gak akan ada orang yang nyadar kalo gue sebenarnya cowok. Udah, jadilah gue sebagai waria.

Tahu gak? Ini rasanya lebih sakit daripada dikasih piring isi tai kambing pas makan di restoran.

Tapi... yaudahlah. Mungkin gue bakal dapet pekerjaan yang lebih baik. Kayak supir angkot misalnya.

Well, beberapa minggu lalu. Nenek gue bilang, "Tuh. Lihat orang-orang yang jadi kuli di depan rumah, udah kerjanya di panasan, kulitnya item, tangannya kasar, gajinya dikit. Mending jadi orang kantoran, kerjanya gak di panasan, kulitnya tetep putih, tangannya alus, gajinya juga lumayan." katanya dengan pelan. "Mangkanya belajar biar jadi pinter..." tambahnya.

Waktu itu gue curiga nenek gue adalah Mamah Dedeh. Tapi enggak, dia tetep emaknya emak gue.

Mungkin, orang-orang yang kerja jadi kuli di depan rumah tadi gak punya pilihan lain. Mau gak mau ya jadi kuli. Padahal, orang gak tahu, sebenarnya setiap hari gue sendiri pun juga kuli. Iya, beneran. Tiap hari gue kuli... kuliah maksudnya.

Gue masih buntu untuk sekarang. Kayak waktu SMA, bingung mau kuliah dimana, ngambil jurusan apa, dan sebagainya. Gue sekarang bingung mau kerja seperti apa, milih kerja yang gimana, minta gaji berapa, minta gaji tiap hari apa, dan sebagainya.

Kalo kalian mau kerja yang gajinya banyak, boleh-boleh aja. Kalo kalian mau kerja yang sesuai dengan passion kalian pun juga boleh, selama kalian bisa menjadi seorang yang profesional dalam bekerja maka lama-lama kalian bisa dapet kerjaan yang sesuai gaji dan sesuai passion. I know it's hard but, kita harus percaya pada diri sendiri untuk bisa mengejar mimpi kan?

Gak ada mimpi yang terlalu tinggi buat diraih, yang ada usaha yang keras dan kita bakal mendapatkan mimpi itu.

I know that the time will come, what will I be someday.

Akhir kata, gue tutup denga nyanyian "Que Sera, Sera, Whatever will be, will be. The future's not ours, to see. Que Sera, Sera"

nyanyi aja sampe mampus~
 
;