Senin, 12 Agustus 2013 0 komentar

Hey. I'm not loser anymore. But winner!

Ini tentang cerita dibalik kemenangan gue ikutan kuis di sosial media, untuk pertama kalinya. And yes, there's always for the first time.

Oke. Mungkin gue akan terlihat sombong kalau bikin hal semacam ini. Sejujurnya, gue emang pamer. Tapi bukan pamer kayak, "Eh lihat deh, aku dapet buku loh. Menang kuis nih! Hahaha"

Tapi pamer bahwa gue menang disini. Menang dalam kuis. Dan dengan dibuatnya catatan ini, gue pengin hari kemenangan gue itu diingat.

Let's we begin.

Awalnya begini. Lagi ada kuis di twitter. Hadiahnya dapet buku "Student Guidebook For Dummies". Tentunya gue excited, dan akhirnya ikutan kuis ini di twitter. Gue ikuti persyaratannya. Mulai dari ganti ava twitter pake cover buku "Student Guidebook For Dummies", ngefollow twitternya Kevin Anggara (Penulis bukunya), ngefollow postingan di blognya dan sebagainya.



























Dan penentuan kuis tersebut adalah bikin tweet yang sekreatif mungkin. 
Tweet pertama yang gue kirim adalah "Merah=Duit 100rb. Biru=Duit 50rb. Kuning=Cover buku  #bukukevin , THR anti-mainstream dapet yg kuning @Bukune"

Seneng banget sampe diretweet sama akun Bukune  Karena gak banyak yang diretweet sama akun Bukune . Gue optimis. Apalagi diretweet sampe 4 kali. Termasuk si Kevin Anggara.























Tweet kedua yang gue kirim adalah "Dapet THR uang bakal cepet abis, tp THR #bukukevin gak ada abisnya, bisa minjemin temen2 biar gaul @kevinchoc @Bukune"

Gue sadar kok. It's sounds so garing banget. Akhirnya cuma diretweet sama si Kevin.




















Kuis ini berlangsung 4 hari. Sebenarnya gak ada batasan untuk ngirim tweet berapa kali. Cuma gue "merasa" optimis dengan tweet yang pertama. Jadi yah walaupun gak terlalu besar harapan buat menang, gue tetep ngarep bisa menang. Belajar dari pengalaman, kalo ikutan kuis kayak gini kalo ngarep banget pasti jatohnya sakit sampe ke dalam hati kalo gak menang. 

Rasanya kayak "Ah males ah, sia-sia terus gue ikutan kuis kayak gini."

Berlanjut ke kuis yang ada di facebook. Hadiahnya juga dapet buku "Student Guidebook For Dummies". Gue ikutan juga kuis yang ini. Dan pikiran gue saat itu kayak "Kalo menang di twitter dan facebook gimana ya? Hahaha"

Gue cukup optimis menang di twitter. Tapi gak ada salahnya ikutan kuisnya di facebook juga. Yang kuis di facebook ini persyaratannya lebih sederhana. Cuma ngasih alasan kenapa pengin baca buku ini di kolom komentar.

Dan komentar gue waktu itu adalah "Sesuai dengan judul bukunya. Student GuideBook For Dummies. Jadi gue ini dummies level 15. Sehingga, dengan persetujuan yang sah, gue layak dapet buku ini. Hihi. Serius. Alasan gue pengin baca buku ini adalah karena guesering kepergok sama guru killer. Selalu jadi sasaran empuk bagi guru killer. Maunya sih gue mau jadi murid killer bagi guru tapi gue terlalu lemah untuk itu. Dan satu lagi, di review buku ini, katanya akan ada bagi-bagi tips dan trik menikmati hidup sebagai pelajar. Dan iya, gue butuh banget!"

Dan kuis ini juga berlangsung selama 4 hari. Mulai dari tanggal 8 - 11 Agustus 2013.

Dan akhirnya hari pengumuman pemenang itu tiba. Tentu, yang gue cek pertama kali adalah twitter. Pengumumannya jam 8 malem. Dan gue baru buka twitter jam 9 malem. Pas gue cek ke mention, gak ada mention dari Kevin maupun akun Bukune. 

Terus gue stalking twitternya si Kevin Aggara, ternyata pengumumannya udah ada. Dan gue gak ada disitu. Kecewa? Ya iyalah. Gila kali kalah dalam sesuatu tapi gak ngerasa apa-apa. *Emosinya kayak anak alay banget*

Dari situ. Gue langsung ngeunfollow twitternya Kevin Anggara. Dan ganti ava twitter pake foto sendiri. Terus gue update di twitter, tweetnya gini "-_-". Singkat. Padat. Dan. Mangkelin. Banget.

Yah, terus gue buka facebook. Gue udah gak punya pikiran kayak, "Duh kuis yang di facebook menang gak ya?". Rasa deg-degan gue udah tenggelam dalam samudra lepas. Dan udah dimakan hiu ganas yang mirip di film Finding Nemo.

Eh gak tahunya. Ngelihat di beranda. Ada fanpage Bukune yang mengumumkan kuis tersebut. Dan iya, nama gue ada disana! Terpampang nyata banget itu nama gue yang mirip banget penulisannya kayak di akte kelahiran.

Gue shock? Iya! 
Mau pingsan? Iya! 
Mau nangis? Bisa jadi!

Sejenak rasa deg-degan itu kembali. Seolah gue naik kapalnya Jack Sparrow dan nyemplung menyelami samudra luas. Dan ketemu hiu. Dan gue gampar mukanya. Gue suruh ngelepeh rasa deg-degan punya gue dan gue ambil kembali dari mulutnya.

Rasanya... entahlah. Gue bingung menggambarkan rasa itu dengan kalimat seperti apa. Yang pasti, ini adalah pertama kalinya gue menang dalam kuis ini. Mama pasti bangga pernah ngelahirin gue ke dunia ini.

Well, ada sekitar 138 orang yang ikutan kuis di facebook ini. Dan hanya 5 pemenang yang berhasil dapet buku "Student Guidebook for Dummies" beserta tanda tangan si penulis bukunya, Kevin Anggara. Dan gue satu dari kelima orang yang terpilih itu.

Setelah itu, gue balik ke twitter. Dan follow twitternya Kevin lagi. Dan ganti ava dengan cover bukunya. Hihi. 

Gue beruntung? Bisa dibilang begitu. Tapi, perlu kalian tahu. Gue udah lama sekali ikutan hal yang beginian. Puluhan kuis gue ikuti. Dan, puluhan kegagalan yang gue dapatkan juga. Semunya kayak "sia-sia aja". Yah, cukup sedih emang. Terkadang kalo lihat ada kuis, gue kayak, "Gak ikut deh, toh akhirnya gak menang kayak dulu-dulu. Males ah, rasanya mirip di php sama orang."

Rasanya sakit, nyesek, jleb, dan hal semacamnya. Gue berasa bodoh aja gitu. Ikut kuis tapi gak pernah menang. Sebodoh apa sih gue ampe kagak pernah menang. I'm like a loser. Tapi, sekarang gue berdiri dengan kaki gue sendiri dengan wajah yang berseri. Wajah yang seolah berkata "Hey. I'm not loser anymore. But winner!"

Yah. Banyak orang yang berkata. "Sukses itu butuh kegagalan yang bertubi-tubi." Dan ya, dulu, gue hanya manggut-manggut doang ngedenger kalimat itu. Tapi sekarang, yang berbicara kalimat itu adalah pengalaman gue sendiri. 

For your information, Kevin ini masih 2 SMA. Masih muda? Yah, kalo dibandingin sama anak SD yah si Kevin dibilang tua lah. Well, yah dia emang masih muda kalo dibandingin sama gue.

Someday, gue bakal menyusul dia dan penulis lain. Dalam menjadi seorang penulis yang punya buku sendiri, mungkin sekarang gue lagi ditahap "loser"nya. And time will tell, that I'm gonna be something that I wanted someday. Gue bakal jadi "winner" dalam hal menjadi penulis yang punya buku sendiri. Dan iya, gue bakal ngadain kuis kayak Kevin lakukan. Dan seseorang bakal nulis hal yang sama seperti yang gue lakukan sekarang suatu hari. 

That's gonna be awesome! Thank you for this feeling!
Kamis, 23 Mei 2013 6 komentar

Kenapa Semut Bisa Jalan di Tembok?















Seperti yang kita ketahui bahwa semut adalah hewan yang perkembangannya sangat cepat. Buktinya? Lihat sekeliling, pasti ada kawanan semut yang sedang berjalan. Entah itu di lantai, tembok, terkadang semut juga suka merambat ke kulit kita. 

Pernahkah kalian berpikir bagaimana semut bisa berjalan di tembok? Bagaimana bisa semut berjalan di tembok? Apakah karena tubuhnya ringan? Atau kaki semut sama seperti kaki cicak pada umumnya?


Bagi kita, manusia, permukaan tembok, papan tulis, dan bahkan cermin itu terlihat dan terasa halus. Akan tetapi bagi hewan seperti semut, belalang, dan binatang kecil yang lain, permukaan tembok, papan, meja, atau cermin itu mempunyai tekstur yang kasar. Bentuknya seperti pori-pori yang memungkinkan untuk dipanjat oleh binatang tersebut.

Apakah karena tubuh yang ringan juga berpengaruh? 
Ya, itu berpengaruh. Tubuh hewan yang ringan memungkinkan meminimalkan hambatan udara dan gravitasi.

Apakah kaki semut sama dengan kaki cicak pada umumnya?
Tentu, tidak. kekuatan perekat pada telapak kaki cicak ditimbulkan oleh tenaga van der Waals. Di dalamnya, ada sekitar 500 ribu bulu halus yang kuat pada telapak kaki cicak. Bulu halus ini mengandung senyawa keratin yang juga terkandung pada rambut manusia. Bulu halus pada telapak kaki cicak ini panjangnya bervariasi, antara 30 sampai 130 mikrometer. Tebalnya pun hanya sepersepuluh tebal rambut manusia.

You know now.
0 komentar

Pelangi Kecil


20 Juni 2012.



















Aku sedang duduk di lantai dua di rumahku. Lantai yang hanya berlantaikan semen yang kasar. Ya, rumah ini belum sepenuhnya jadi. Di atas sini hanya ada beberapa tumpukan kayu yang diikat dengan tali biru. Ditutupi dengan seng di atasnya agar saat hujan, kayu-kayu ini tidak cepat rusak.

Tidak ada dinding yang membatasi lantai dua ini. Orang bisa saja melihatku duduk di lantai ini dengan pikiran anehnya yang bertanya-tanya “Kenapa anak kecil itu duduk sendirian di atas sana?”

Saat ada orang yang melihatku duduk di lantai ini, aku merasa mereka menganggapku sebagai orang yang aneh. Tapi aku juga merasa bahwa yang sebenarnya aneh adalah mereka yang berpikiran bahwa aku aneh. Maksudku, apa salahnya duduk di atas lantai rumahku sendiri yang belum jadi ini? Apa dengan ini, aku mengganggu kehidupan kalian?

Aku rasa jawabannya tidak.

Sebagian rumahku—lebih tepatnya rumah orang tuaku—ini dibangun dengan satu lantai dan sisanya dibangun dengan dua lantai. Kami, keluarga ini, belum punya cukup uang untuk menyelesaikan setiap detail dari rumah ini. Itu artinya aku tidak tahu kapan rumah ini akan disebut sebuah rumah yang utuh.

Dan aku merasa baik-baik saja. Aku masih bisa merasakan apa yang disebut orang sebuah ‘kenyamanan’. Aku masih bisa merasakan udara sejuk saat angin berkeliaran di sekitar tubuh di atas sini.

Aku adalah satu-satunya orang dari keluargaku sendiri yang suka duduk bersantai di lantai dua. Mereka, keluargaku yang lainnya mungkin hanya pernah ke atas sini untuk menjemur pakaian mereka. Atau sekedar menaruh sepatu mereka yang basah sehabis di cuci dari kotoran jalanan.

Terkadang aku bosan untuk tidur di tempat yang sama. Maksudku, aku terkadang bosan untuk tinggal di rumah ini. Tapi, aku akan merindukan rumah yang membesarkan aku sekarang ini jika aku sedang berada jauh dari rumah untuk beberapa minggu.

Meskipun begitu, aku mencintai rumah ini. Sebenarnya aku tidak mau rumah ini menajdi utuh. Aku mau semuanya tetap seperti ini, aku masih mau menghabiskan waktuku untuk duduk di atas sini. Meskipun, aku tahu di lantai dua ini tidak ada apa-apa.

Tapi disini, ada atap bumi yang bisa aku lihat kapanpun. Atap yang berwarna biru saat siang hari. Atap yang berubah menjadi atap emas saat matahari terbenam. Dan atap gelap dengan titik-titik cahaya yang berkilauan saat malam hari datang.
Ini masih belum jam lima sore, jam dimana matahari akan menenggelamkan dirinya dan menghilang dari langit untuk beberapa jam kemudian. Sekarang aku duduk membaca buku yang membawaku ke masa depan nantinya, buku Chicken Soup for Entrepreneur’s Soul, dan membawa botol air minum 1,5 liter yang aku letakkan di lantai kasar ini.

Buku itu menceritakan pengalaman-pengalaman nyata yang dialami oleh pengusaha-pengusaha terkenal di dunia. Aku tidak tahu apa aku benar-benar yakin untuk menjadi seorang pengusaha.

Bagaimana jika aku gagal dalam usaha yang aku bangun sendiri? Aku juga bahkan tidak yakin jika suatu saat aku jatuh, apa aku bisa bangkit dengan dorongan dalam hati dan pikiranku sendiri?

Ketika aku sedikit disibukkan oleh buku yang aku pegang, aku terkejut saat aku melihat pelangi kecil di lantai abu-abu ini. Pelangi kecil. Mungkin pelangi ini bukan lengkungan spektrum dengan berbagai warna yang menghisai di langit seperti yang biasa kau lihat saat setelah hujan berkahir dan matahari datang.

Pelangi ini mungkin tidak melengkung, sinar matahari yang datang ke arah air ini melakukan pembiasan yang menghasilkan pelangi kecil. Pelangi itu terdiam di atas lantai. Aku menyodorkan tanganku ke arah pelangi itu dan telapakku mulai berwarna pelangi.

Seolah-olah aku sedang memegang pelangi. Hal ini tidak pernah terpikiran di benakku. Membawa air ke lantai dua sebetulnya hanya bertujuan agar aku tidak perlu berjalan menuruni anak tangga satu per satu untuk meneguk sebuah air mineral saat aku merasa haus di lantai dua.

Aku merasa tenang melihat kehadirannya.

Bibir kakuku mulai tersenyum melihat pelangi itu. Tanganku mulai menggoyang-goyangkan air di dalam botol besar itu dengan perlahan, membuat pelangi kecil itu terombang-ambing seolah sedang berlayar di samudra dan terjebak dalam badai yang sangat besar.

Aku mulai menyukai pelangi itu.

Aku mulai menyukai membawa air mineral ke atas sini.
***

Kau tahu, sampai sekarang, saat aku sudah menginjak umur tujuh belas tahun beberapa bulan yang lalu, saat aku sudah berada di tahun ketiga di sekolah menengah atas, aku masih tidak tahu apa-apa tentang menjadi apa.

Terlalu banyak orang yang aku tahu yang selalu seolah meneriakiku dengan kata-kata “Berhenti bilang kau tidak tahu apa-apa, tentukan apa yang kau mau dan yang kau suka!”. Mungkin tidak dengan kata yang sama, tapi garis besarnya begitu adanya.

You know. Aku masih muda, atau bahkan masih terlalu muda, dan terlalu banyak hal gila yang belum aku lakukan saat aku muda sekarang.

Aku sadar, kalau aku tidak melakukan hal gila berulang kali itu sekarang, bisa saja aku akan duduk di atas tempat tidur saat usiaku enam puluh empat tahun memegangi keriput yang ada di pipiku dan flashback betapa aku mengertinya hidup saat itu dan menyesal atas apa yang tidak aku lakukan saat aku masih muda.

Aku tahu roda bis terus berputar. Aku akan tersenyum indah saat aku mendapatkan baju baru dari kakek saat aku masih begitu kecil. Lalu aku akan tersenyum indah lagi saat aku bisa memilih baju baru yang aku inginkan saat aku masih remaja. Lalu aku juga akan tersenyum indah saat aku bisa membeli baju baru yang aku inginkan dengan uangku sendiri saat aku sudah beranjak dewasa.

Dan aku juga masih akan tersenyum bahagia saat aku bisa memberikan baju baru kepada cucuku saat aku sudah tua nantinya.

Aku hanya tidak tahu harus memikirkan masa depan yang bagaimana. Aku butuh arah. Maksudku, aku butuh orang yang bisa menuntunku untuk memilih jalan yang menuju ke masa depan.

Sekarang, saat aku memegang buku dan membaca beberapa kalimat yang tertulis di dalamnya, yang ku tahu adalah suatu hari aku hanya bisa memegang buku ini dan tidak bisa membaca beberapa kalimat yang tertulis di dalamnya. Atau bahkan hanya sekedar mengingat kalimat yang tertulis itu.

Ini sudah melewati pukul lima sore, matahari masih menyilaukan dari ufuk barat. Aku menutup buku yang ku pegang. Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan isi buku itu sementara pikiranku melayang membayangkan masa depan yang menyeramkan. Yang selalu menghantui setiap hariku.

Aku juga suka matahari yang menyilaukan.

Langit yang membentang di atasku sekarang seperti kain biru yang bermotifkan awan putih yang bergerak dengan paduan warna orange yang dipancarkan matahari.

Oh, kau tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang?

Matahari yang akan tenggelam itu seperi buah jeruk segar yang bersinar tergantung di langit bagian barat.


Sabtu, 18 Mei 2013 0 komentar

Dangdutan!


Jujur-jujuran aja. Gue gak suka dangdut sebenarnya. Kecuali lagunya bener-bener bagus di denger dan gak ngeselin liriknya.

Barusan aja tetangga gue mutar lagu dangdut. Gue sih gak masalah dia memutar lagu dangdut. Karena selera orang pasti beda-beda. Toh itu haknya dia kan?

Tapi yang bikin gue kesel adalah tetangga itu mutar lagu dengan keras kayak anaknya lagi sunatan. Padahal lo belum punya anak kan? Cih! 










Kasian di gue. Udah kuping gue sakit, belajar gak fokus, makan gak kenyang (belum makan sih). Oh! Gak pernah tahu kalu besok ada ujian nasional? Apa gak pernah tahu kalau besok paket ujiannya 20 paket? Atau apa gak pernah tahu kalau besok hari senin? Gak punya kalender? Noh beli di toko semen. Pengertian dikit kek jadi tetangga.

Gak pernah makan paku bumi ya? Apa gak pernah makan ban serep? Besok gue beliin selautan kalau perlu.

Meskipun di rumah ada mercon bantingan, apa rumah situ gue lemparin menconnya? Enggak kan. Kurang ganteng apa coba gue?
Coba aja gue punya temen kek eyang subur, pasti gue kaya. *eh

Nanti deh, kalau udah punya anak cowok yang mau disunat, baru muter gituan. Kalau gak punya anak cowok, ya bapaknya sono suruh sunat lagi. Gue doakan tambah panjang. Umurnya.

Mau muter dangdut kek, mau muter bunderan HI kek, terserah deh apa kata situ pokoknya jangan sekarang. Mau 'titik' apa 'koma'? Titik aja? Yaudah, pokoknya jangan sekarang. TITIK!

Kalau sampe saya gak lulus UN, musik dangdut bakal gue laporin ke pihak yang berwajib. 
Jumat, 03 Mei 2013 1 komentar

Sinetron Indonesia


Tabrakan 


Entah kenapa tabrakan itu dominan untuk sebuah sinetron. Apa memang tidak ada ide lain seperti tertimpa meteor? Atau mati kena angry birds misalnya? Kan lagi nge-te-ren

Ada beberapa jenis tabrakan menurut saya. Dan ini dia.
1. Cewek sama cowok lagi buru-buru di lorong kelas, mereka tabrakan, buku berjatuhan, mereka tatap-tatapan dan akhirnya kabur. Besoknya, bukunya ketuker dan mereka ketemuan, lama kemudian mereka jadian. Idih

2. Ada cewek yang lagi nyebrang dan ada mobil yang melaju cepat. Si cowok yang melihat kejadian sok ngedorong cewek lalu dirinya ketabrak. Ceweknya nolongin dan mereka pacaran.

3. Cowok yang lagi galau kebut-kebutan dijalan terus nabrak cewek, gakada yang nolong, terus dibawa ke rumah sakit dan mereka jatuh cinta.

4. Ada cewek yang ngelihat pacarnya sedang mesra, cewek itu nangis dan lari menjauh terbirit

Gak ada yang salah sama cerita tabrakan itu, hanya saja semuanya terlalu sederhana dan sudah ketebak endingnya. Bukannya mau menjelek-jelekkan Sinetron buatan Indonesia, tapi menurut saya emang sinetronnya kurang wow. Jadinya anak muda zaman sekarang lebih milih nonton Reality Show yang bukan abal-abal dari pada harus nonton sinetron.

Tapi jangan khawatir, sinetron Indonesia masih digemari ibu-ibu kok. Demi Eyang Subur deh.

Maju terus sinetron Indonesia! (seperti dapat piala untuk aktor terbaik) Muahaha
Jumat, 04 Januari 2013 0 komentar

Thank You 2012, Welcome 2013 (Arief Maulana)

Sederhana, Hanya Ingin Bahagia

2012.

Tahun baru dan harapan baru.
Di awal tahun itu, saya adalah siswa pendiam yang duduk di pojokan kelas. Seperti lampu redup yang jarang dilihat. Saya melihat keadaan kelas dengan suara yang bising dan tawa yang menyenangkan bagi mereka, dan tawa yang menyedihkan bagi saya.

Sungguh aneh, berada dalam keramaian tapi merasa begitu sendiri. Berada di dalam kelas dengan hati yang selalu bertanya “Kenapa waktu berjalan begitu lambat?” dan selalu berharap cepat pulang dan tidur di rumah dan bermimpi hal indah yang tidak saya dapatkan di sekolah.

Rasanya ingin sekali cepat lulus dari sekolah yang menyeramkan ini.

Kebanyakan waktu, saya selalu berimajinasi tentang bagaimana jika kelas ini mengadakan reuni. Mungkin kebanyakan murid lainnya akan berbisik satu sama lain menanyakan “Siapa nama anak itu?”. Sungguh menyedihkan bahwa saya akan masih mengingat nama belakang mereka.
Saya merasa lelah dengan kehidupan seperti ini.

Saya saat itu selalu menyalahkan teman-teman yang lain karena mereka bermain sendiri tanpa melihat saya yang selalu membuat luka yang saya buat sendiri. Rasanya begitu kejam. Tapi setelah waktu berjalan, kenyataannya mereka sama sekali tidak bersalah. Orang yang patut disalahkan dalam hal ini adalah diri saya sendiri.

Saya seharusnya berbaur dengan mereka, tersenyum dan mencoba mengatakan sesuatu yang lucu. Bukan malah menuggu mereka membuat saya menjadi orang yang suka tersenyum kepada orang lain.

Beberapa bulan kemudian, saya mulai melakukan apa yang pepatah bilang “Hidup perlu perubahan”. Saya menyadari, perubahan tidak akan pernah terjadi kecuali dirimu sendiri yang memulainya. Setiap hari, seolah membiarkan waktu berjalan lambat. Menghabiskan waktu dengan bermain kartu dan tertawa kepada orang yang klah dalam permainan. Dan benar, saya mulai menyukai kehidupan yang seperti ini. Tapi, saat bel pulang berbunyi. Saya selalu berharap bel masuk kelas esok hari datang lebih cepat.

Dan saya mulai berimajinasi kembali, dan tertawa kecil saat membayangkan bahwa saya tidak akan dilupakan oleh mereka pada saat diadakan reuni kelas. Rasanya ingin selalu menghirup napas yang panjang dan mengeluarkannya lewat mulut.

Menjadi bahagia, saya rasa hal itu tidak semua orang dapatkan.
Hal itu seperti mimpi, yang perlu digapai dengan tindakan yang dilakukan oleh satu pribadi. Dan saya adalah salah satu pribadi yang berhasil mendapatkannya. Semua itu bukan berarti saya selalu merasa bahagia setiap waktu, saya masih merasa sendirian terkadang. Tapi saya mensyukurinya, karena ada kebahagiaan, pasti juga ada kesedihan.

Bukankah hidup memang seharusnya berjalan seperti itu?

Di akhir tahun ini, saya mulai menulis setiap kejadian yang lucu dan menyenangkan yang terjadi di dalam kelas. Entah itu peristiwa kebodohan saya sendiri atau peristiwa kebodohan orang lain. Yang pasti, saya hanya ingin melihat mereka tetap bahagia bersama saya. Hanya sesederhana itu.

Saya mulai rajin mengunjungi perpustakaan sekolah dengan meminjam buku-buku karangan Raditya Dika, dan beberapa penulis lain yang bukunya berlabel “Personal Literature” yang diterbitkan oleh Bukuné.
Lalu saya mulai tertarik untuk menggabung tulisan-tulisan kejadian lucu tersebut dalam bentuk buku seperti Personal Literature. Alhamdulillah, 3 bulan ke depannya saya berhasil membuat satu buku pertama saya. Sebuah pencapaian yang selalu membuat saya tersenyum bahagia. Di tanggal 1 Desember, saya pergi ke kantor pos dan mengirim buku pertama saya ke pihak Bukuné.

2013.

Di awal Januari ini, saya sedang menuggu keputusan pihak Bukuné apakah buku saya layak untuk diterbitkan. Tentunya saya berharap di tahun ini buku saya bisa diterbitkan oleh Bukuné dan menjadi penulis yang hebat.

Karena beberapa bulan lagi, saya menghadapi Ujian Nasional, maka saya berharap saya bisa melaluinya dengan baik dan dapat melanjutkan pendidikan saya ke universitas yang saya impikan. Dengan itu, harapan orang tua saya pun juga akan terwujud.

Tapi ada juga harapan di tahun ini yang sama dengan harapan tahun sebelumnya, yaitu menjadi bahagia dalam diri sendiri dan membuat orang lain bahagia.


Bukune: http://bukune.com
GagasMedia: http://gagasmedia.net
Gammara Leather: http://gammaraleather.com
Minggu, 09 Desember 2012 0 komentar

Bawang Putih dan Engkong Ajaib


Ini adalah drama sosio, drama dengan pantun (katanya). Dan ini apa ya? Mending dibaca. So, selamat menikmati.

1.      Alif Ulfatin                              sebagai Mbok Tiri
2.      Bentara Lantana                    sebagai Engkong Ajaib dan Ayah Pangeran
3.      Elly Raheliyawati                   sebagai Bawang Merah
4.      Moch. Arief Maulana            sebagai Pangeran
5.      Yohanna Elisa Sianipar          sebagai Bawang Putih


Scene 1

Pada suatu masa, hiduplah seorang Mbok Tiri yang mempunyai anak. Bawang Merah dan Bawang Putih. Suatu hari, Bawang Putih sedang mengurus tanaman di depan rumahnya. Kemudian, Mbok Tiri dan Bawang Merah datang menghampirinya.

Mbok Tiri          : Hey! Bawang Putih! Cucian masih banyak di belakang, ngapain kamu nanam pohon kayak begituan?
Bawang Merah : Iya, ngapain coba? Penting gak sih? Penting banget apa penting aja?
Bawang Putih   : Emang situ oke?
Mbok Tiri          : Iya, kita oke. Masalah?
Bawang Merah : Masalah aja, apa masalah banget?
Bawang Putih   : Masalah dong!
                          Hari Minggu naik delman, sambil makan buah kedondong
                          Jika ingin hidup nyaman, cintai lingkungan dong
Bawang Merah : Beli apel sama jeruk satu ton, jangan lupa kembaliannya
                          Ngapain coba nanam pohon? Mending tidur aja

(Mbok Tiri dan Bawang Putih bergumam tidak jelas lalu pergi)
(Engkok Ajaib tiba-tiba datang menghampiri Bawang Putih)

Engkong Ajaib   : Hihihihi! Hai, Bawang Goreng! Eh, hai Bawang Bombai! Eh, hai Bawang Keputihan! Lagi nanam pohon ya? Pohon mangga apa duren? Apel apa jeruk? Hmm Dodik apa Topeng? Gue punya bibit nih, mau yang mana?
Bawang Putih   : (Hendak bicara)
Engkong Ajaib   : Eh jangan bicara dulu. Mau bibit yang mana? Mangga apa duren? Apel apa jeruk? Gimana kalau ‘maruk’? Kombinasi antara mangga dan jeruk? Nah, gimana kalau yang ini? Namanya durian suci. Mauu?
(Bawang Putih menerima bibit yang diberikan oleh Engkong Ajaib, lalu Engkong Ajaib pergi)
Bawang Putih   : Namamu…
Engkong Ajaib   : Sstt! Perkenalkan, namaku adalah Engkong Ajaib! Oh ya, satu lagi bawang keputihan. Jangan pernah memberikan bibit ini kepada siapapun, bahkan pada seekor komodo. Kecuali benar-benar dibutuhkan.

(Engkong Ajaib pun menghilang)
(Dari Kejauhan Bawang Merah berlari ke arah Bawang Putih)

Bawang Merah : Hey! Keputihan, tadi yang disini apaan? Terus itu apa yang ada di tanganmu?
Bawang Putih   : Ih! Mau tahu aja apa mau tahu banget?
Bawang Merah : Serahin ke gue sini! Cepet!
Bawang Putih   : Eh ada upil terbang! (Menunjuk ke arah atas lalu kabur)

(Kemudian Bawang Putih menanam bibit durian suci tersebut di suatu tempat yang tidak diketahui oleh Mbok Tiri dan Bawang Merah)

Scene 2

Suatu malam, saat seorang Pangeran sedang asyik bermain lompat tali, Pangeran mendengar ayahnya menjerit kesakitan dari kamarnya.

Ayah Pangeran : Anakku! Anakku! ANAKKU!
Pangeran          : Ada apa Ayahku? Siapa yang berani melakukan semua hal ini padamu Ayah? Beraninya dia melakukan hal ini. Katakan padaku Ayah, siapa orangnya?
Ayah Pangeran : Entahlah, nak.
Pangeran          : Baik, Ayah. Aku akan mencari “Entahlah” sekarang juga.
Ayah Pangeran : Bukan, bodoh! Ayah tidak tahu siapa yang melakukannya. Tapi, carilah biji durian suci untuk menyembuhkan penyakit ini.
Pangeran          : Mencari guci di toko guci, mencari mangga di toko mangga
                          Jika aku harus mencari durian suci, aku harus mencari kemana?
Ayah Pangeran : Alam baka!
Pangeran          : Plaaaak! (Menampar pipi ayahnya) Baiklah, Ayah. Aku akan menemukan durian suci itu segera.

Scene 3

Keesokan harinya, Pangeran memberi pengumuman berita kepada rakyatnya tentang ayahnya yang terjatuh sakit.

Pangeran          : Raja telah disantet. Seseorang telah menyantet Raja. Bagaimana ini bisa terjadi? Entahlah. Barang siapa yang dapat menemukan durian suci untuk menyembuhkan Raja. Maka dia akan menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Jika anda tahu soal tanaman itu, hubungi nomor di bawah ini.

(Bawang Merah yang mendengar berita itu langsung mencari tanaman durian suci itu. Tidak lama kemudian, Bawang Merah menemukan tanaman itu. Kemudian, Bawang Merah langsung mengambil ponselnya dan menelpon Pangeran)

Bawang Merah : Halo, Pangeran? Saya tahu dimana tanaman itu berada!
Pangeran          : Sumpeh lo?
Bawang Merah : Mau sumpeh aja apa sumpeh banget?
Pangeran          : Sumpeh banget lo?
Bawang Merah : Iya, cepet kesini deh, Pangeran.
(Pangeran datang di rumah Bawang Merah)
Pangeran          : Kau yakin itu tanamannya?
Bawang Merah : (Mengangguk)
Pangeran          : Lalu, cabutkanlah tanaman itu untukku sekarang juga
Bawang Merah : (Mencoba mencabut tanaman tapi tidak bisa)
(Seketika Bawang Putih datang dan menghentikan Bawang Merah)
Bawang Putih   : Hentikan, wanita! Emang elo dan elo merasa oke?
Pangeran          : Ha? Siapa kau?
Bawang Putih   : Afikaa! Iya gak lah, Bawang Putih! Pemilik tanaman ini.
Bawang Merah : Tidak Pangeran, ini milikku!

Mbok Tiri          :  Mau ke Bali lewat Bungurasih, jalan-jalan ketemu bule.
                          Ada apa sih? Kok rame-rame?
Bawang Merah : Tanaman ini milikku kan Mbok?
Mbok Tiri          : Haah? (Kaget karena tidak tahu apa-apa)
Bawang Merah : (Menginjak kaki si Mbok) Ini milikku kan?
Mbok Tiri          : Aduh! Iya, Iya nak!

(Tiba-tiba Engkong Ajaib datang, selalu tiba-tiba)

Engkong Ajaib   : Hentikan! Tanaman ini milik Bawang Putih. Dua orang ini adalah pembohong…
Pangeran          : Apakah buktinya peri?
Engkong Ajaib   : Gue bukan peri, tapi Engkong Ajaib. Bawang Merah atau Mbok Tiri tidak bisa mencabut tanaman itu. Tapi, Bawang Putih bisa mencabutnya. Cabutlah tanaman itu, tapi ingat dengan pesanku waktu itu.

(Tiba-tiba Engkong Ajaib menghilang, selalu tiba-tiba)

Bawang Putih   : Lihat nih! (Mencabut tanaman durian suci dengan mudah)
Pangeran          : Sekarang berikanlah padaku.
Bawang Putih   : Tidak!
Pangeran          : Tolonglah Bawang Putih! Ayahku sedang koma sekarang, dan aku butuh tanaman itu untuk menyembuhkan penyakitnya. Jika kau memberikan tanaman itu, aku akan memberikan lima keuntungan!
Bawang Putih   : Baiklah, tapi dengan satu syarat. Kau harus bisa menanam seribu pohon dalam satu hari satu malam.
Pangeran          : Baiklah, aku akan melakukannya.

Scene 4

Keesokan harinya, saat pagi hari, Pangeran sudah menanam banyak pohon. Dengan keringat sebesar bola basket, Pangeran terus menanam pohon tanpa berhenti sedetik pun.
(Pangeran menggambar pohon di papan tulis.)

 

(Gambar pohon) x 103
Setelah 1000 pohon itu selesai ditanam, kemudian Pangeran capek dan tertidur. Karena Bawang Putih takut melanggar janjinya, maka dia mencabut tiga pohon saat Pangeran terlelap tidur.
 

    (Gambar pohon) x 103 - 3
Pada saat matahari terbit, Pangeran pun bangun dari tidurnya. Dia menyadari seseorang telah mencabut pohon yang telah ditanamnya. Bawang Putih terlihat mengendap-endap pergi dari tempat Pangeran berada, sedangkan Bawang Merah dan Mbok Tiri mengikuti Bawang Putih secara diam-diam.
Pangeran          : Kalian?
Bawang Merah : Dia yang telah mencabutnya Pangeran!
Bawang Putih   : Tidak, dia yang telah menyabutnya.
Pangeran          : Diamlah! Aku akan mengutuk kalian semua menjadi pohon!
                          “Expecto patronum!”
Bawang Putih, Bawang Merah dan Mbok Tiri pun berubah menjadi pohon. Sekarang, jumlah pohon itu kembali menjadi 1000 pohon. Pangeran mengambil tanaman durian suci dari tangan Bawang Putih.
Kemudian, Pangeran berhasil menyembuhkan ayahnya. Lalu, Pangeran mengajak ayahnya berjalan-jalan. Dan melihat 1000 pohon yang telah ditanam anaknya.
Ayah                : Hey! Kalian, kalian, kalian. Dramanya sudah selesai! Yuks, cabut!
Selesai

 
;